•06.14
Beliau adalah sosok orang desa yang dilahirkan di desa Sukorejo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten sebelum tahun1850. Tidak diketahui siapa orang tuanya, dan berapa saudaranya. Sebagai generasi I, beliau mempunyai 7 (tujuh) orang anak, yaitu Penglawe, Mertoredjo, Mertotenoyo, Mertodimejo, Mertodrono, Kartodimejo, Warsotenoyo, kesemuanya lahir di desa Sukorejo. Sebagai saudara kakak beradik mereka bersahabat, selalu bermain layaknya kehidupan anak-anak seusia mereka kala di desa. Tidak jarang mereka bermain berlarian di pematang sawah, membantu orang tuanya mencangkul. Adakalanya pada malam hari mereka bermain petak umpet, atau mungkin juga nonton wayang kulit semalam suntuk di lain desa. Mereka selalu bersama, dan bahkan kala tidurpun selalu bersama. Hanya kita tidak pernah tahu mereka tidur beralaskan tikar atau di balai-balai yang dibuat dari bambu. Mereka dilahirkan sebagai Generasi ke II keluarga besar Eyang Mertowidjojo.
Ketika mereka tiba pada waktu mereka harus menikah, maka mereka harus berpisah ke lain tempat mengikuti suami atau istrinya. Eyang Penglawe sebagai anak sulung menetap di Desa Sukorejo. Demikian halnya dengan Eyang Mertotenoyo, Eyang Mertodimedjo, dan Eyang Kartodimedjo setelah menikah mereka semuanya menetap di desa Sukorejo. Lain halnya dengan Eyang Mertoredjo, setelah menikah menetap di Sonokeling, dan Eyang Warsotenoyo menetap di Cumpleng, Sragen.
Dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai kakak beradik mereka saling menghormati. Mereka masih meluangkan waktu untuk saling bersilahturahim. Di hati mereka masih tertanam begitu kuatnya rasa persaudaraan, kekeluargaan, kekerabatan, dan tidak tersirat sedikitpun suatu saat anak cucu bahkan cicit mereka tersebar dan terpisah satu sama lainnya.
Waktu terus berjalan, kala itu tahun belum melewati 1900. Generasi Eyang Penglawe beserta ke enam saudaranya diistilahkan sebagai RUMPUN. Sebagai contoh Eyang Penglawe adalah Rumpun 1, sedangkan Eyang Warsotenoyo adalah rumpun 7, yang berasal dari satu sumber yaitu Eyang Mertowidjojo.
Rejeki, pati, jodoh adalah Allah SWT yang lebih mengetahuinya. Demikian halnya dengan tujuh orang anak keturunan Eyang Mertowidjojo (generasi II) dikarunia keturunan yang jumlahnya cukup banyak, pada umumnya lahir pada dekade sebelum 1900 hingga 1915. Dari tujuh Eyang tersebut telah lahir sekitar 42 orang anak. Eyang Penglawe memiliki 3 orang anak, Eyang Mertorejo (10 anak), Eyang Mertotenoyo (9 anak), Eyang Mertodimejo (1 anak), Eyang Mertodrono (1 anak), Eyang Kartodimejo (12 anak), dan Eyang Warsotenojo (6 anak). Ke 42 anak yang dilahirkan sebagai generai ke III tersebut tersebar di beberapa daerah, mulai di Klaten, Ngemplak Suren, Yagang/Sidosari, Sukorejo, Sonokeling, Sawit, Blimbing, Gatak, Gawok, Karanglegi/Sragen, Cumpleng/Sragen, dan lain-lain. Beliau-beliau yang lahir sebagai Generasi III disebut RANTING (Ranting adalah anak dari Rumpun).
Sebagai contoh, Eyang Penglawe mempunyai 3 anak yang disebut RANTING, yaitu :
Ranting 11. Eyang Khoirun /Kasiyem Kasan Diwiryo
Ranting 12. Eyang Merto Pawiro
Ranting 13. Eyang Putri Wongso Widjojo
Ketika mereka tiba pada waktu mereka harus menikah, maka mereka harus berpisah ke lain tempat mengikuti suami atau istrinya. Eyang Penglawe sebagai anak sulung menetap di Desa Sukorejo. Demikian halnya dengan Eyang Mertotenoyo, Eyang Mertodimedjo, dan Eyang Kartodimedjo setelah menikah mereka semuanya menetap di desa Sukorejo. Lain halnya dengan Eyang Mertoredjo, setelah menikah menetap di Sonokeling, dan Eyang Warsotenoyo menetap di Cumpleng, Sragen.
Dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai kakak beradik mereka saling menghormati. Mereka masih meluangkan waktu untuk saling bersilahturahim. Di hati mereka masih tertanam begitu kuatnya rasa persaudaraan, kekeluargaan, kekerabatan, dan tidak tersirat sedikitpun suatu saat anak cucu bahkan cicit mereka tersebar dan terpisah satu sama lainnya.
Waktu terus berjalan, kala itu tahun belum melewati 1900. Generasi Eyang Penglawe beserta ke enam saudaranya diistilahkan sebagai RUMPUN. Sebagai contoh Eyang Penglawe adalah Rumpun 1, sedangkan Eyang Warsotenoyo adalah rumpun 7, yang berasal dari satu sumber yaitu Eyang Mertowidjojo.
Rejeki, pati, jodoh adalah Allah SWT yang lebih mengetahuinya. Demikian halnya dengan tujuh orang anak keturunan Eyang Mertowidjojo (generasi II) dikarunia keturunan yang jumlahnya cukup banyak, pada umumnya lahir pada dekade sebelum 1900 hingga 1915. Dari tujuh Eyang tersebut telah lahir sekitar 42 orang anak. Eyang Penglawe memiliki 3 orang anak, Eyang Mertorejo (10 anak), Eyang Mertotenoyo (9 anak), Eyang Mertodimejo (1 anak), Eyang Mertodrono (1 anak), Eyang Kartodimejo (12 anak), dan Eyang Warsotenojo (6 anak). Ke 42 anak yang dilahirkan sebagai generai ke III tersebut tersebar di beberapa daerah, mulai di Klaten, Ngemplak Suren, Yagang/Sidosari, Sukorejo, Sonokeling, Sawit, Blimbing, Gatak, Gawok, Karanglegi/Sragen, Cumpleng/Sragen, dan lain-lain. Beliau-beliau yang lahir sebagai Generasi III disebut RANTING (Ranting adalah anak dari Rumpun).
Sebagai contoh, Eyang Penglawe mempunyai 3 anak yang disebut RANTING, yaitu :
Ranting 11. Eyang Khoirun /Kasiyem Kasan Diwiryo
Ranting 12. Eyang Merto Pawiro
Ranting 13. Eyang Putri Wongso Widjojo

